Jumat, 10 Desember 2010

Fakta Sosial


Fakta Sosial
Kata fakta sosial pertama kali diperkenalkan pada abad ke-19 oleh sosiolog Perancis Émile Durkheim dan banyak mempengaruhi analisa Durkheim (dan para pengikutnya) ketika dalam meneliti masyarakat antara lain (Ritzer 2000:73) mengatakan struktur sosial, norma kebudayaan, dan nilai sosial yang dimasukan dan dipaksakan (koersi) kepada pelaku sosial. Sementara Auguste Comte bermimpi untuk menjadikan ilmu sosiologi sebagai disiplin ilmu yang luas, yang berisi semua—'the queen of sciences', adalah istilah yang digunakannya— Durkheim tidak seambisius itu. Durkheim bertujuan agar sosiologi memiliki dasar positivisme yang kuat, sebagai ilmu di antara ilmu yang lain. Fakta sosial (Inggris: social facts) merupakan aliran sosiologi positif dengan pengkajian berasal dari atribut eksternalitas mencakup struktur sosial, norma kebudayaan, dan nilai sosial, fakta sosial bila menurut konteks konsepsi Émile Durkheim didalamnya dapat meliputi kesadaran kolektif dan representasi kolektif berkaitan dengan cara bertindak yang berasal dari elaborasi kolektif yang dijabarkan karena adanya aturan hukum yang bersifat otoritatif termasuk didalamnya praktik keagamaan ataupun yang sekuler yang tertuang dalam norma-norma dan institusi adalah contoh dari fakta-fakta sosial yang berbentuk baku yang berasal dari kelompok praktik diambil secara kolektif dan dengan demikian terdapat adanya pemaksaan diri dan internalisasi yang dilakukan oleh para individu oleh karena secara kolektif telah diuraikan sehingga dapat membatasi moral dan perilaku dari tiap-tiap individu.
Dalam buku Rules of Sociological Method, Durkheim menulis: "Fakta sosial adalah setiap cara bertindak, baik tetap maupun tidak, yang bisa menjadi pengaruh atau hambatan eksternal bagi seorang individu." Dalam sudut pandang Durkheim, sosiologi sederhananya adalah 'ilmu dari fakta sosial'. Oleh karena itu, tugas dari para ahli sosiologi adalah mencari hubungan antara fakta-fakta sosial dan menyingkapkan hukum yang berlaku. Setelah hukum dalam struktur sosial ini ditemukan, baru kemudian para ahli sosiologi dapat menentukan apakah suatu masyarakat dalam keadaan 'sehat' atau 'patologis' dan kemudian menyarankan perbaikan yang sesuai.
Penelitian Durkheim's tentang 'fakta sosial' dalam hal tingkat bunuh diri ini terkenal. Dengan mempelajari statistik bunuh diri pihak kepolisian di berbagai wilayah, Durkheim mampu 'mendemonstrasikan' bahwa masyarakat agama Katolik memiliki tingkat bunuh diri yang lebih rendah dari masyarakat agama Protestan, dan menganggap ini terjadi karena penyebab sosial (dan bukan individual). Ini adalah penelitian pertama di bidangnya dan tetap banyak disebut bahkan sekarang-sekarang ini. Awalnya, 'penemuan fakta sosial' Durkheim dipandang signifikan karena menjanjikan kemungkinan untuk bisa mempelajari perilaku seluruh masyarakat, dan bukan hanya individu tertentu saja. Para ahli sosiologi modern merujuk ke penelitian Durkheim untuk dua tujuan yang cukup berbeda :
·         Sebagai demonstrasi grafis tentang seberapa hati-hati seharusnya periset sosial dalam memastikan bahwa data yang dikumpulkannya untuk analisis akurat. Tingkat bunuh diri yang dilaporkan dalam penelitian Durkheim, sekarang menjadi jelas, sebagian besarnya merupakan artefak cara pengklasifikasian suatu kematian sebagai 'bunuh diri' atau 'bukan bunuh diri' di dalam masyarakat yang berbeda. Apa yang sebenarnya ia temukan bukanlah "tingkat bunuh diri" yang berbeda sama sekali—yang ditemukannya adalah cara berbeda untuk memikirkan tentang bunuh diri.
·         Sebagai titik awal untuk masuk ke dalam studi tentang arti sosial, dan suatu cara dimana tindakan individu yang nyata-nyata identik sering kali tidak dapat diklasifikasikan secara empiris. "Tindakan" sosial (bahkan tindakan individu yang sifatnya pribadi seperti bunuh diri), dalam pandangan modern ini, selalu dilihat (dan diklasifikasikan) oleh para aktor sosial. Untuk itu, menemukan 'fakta sosial', biasanya tidak mungkin dilakukan atau tidak diinginkan, namun menemukan cara bagaimana individu memandang dan mengklasifikasikan suatu tindakan tertentu menawarkan wawasan yang sangat luas.
Sebuah fakta sosial total [fait social total] adalah "sebuah aktivitas yang memiliki dampak terhadap masyarakat, dan juga pada bidang ekonomi, hukum, politik, dan agama ." (Sedgewick 2002: 95) "Beragam untaian kehidupan sosial dan psikologis terjalin bersama melalui apa yang disebut [Mauss] dengan 'fakta sosial total'. Fakta sosial total hingga suatu tingkat tertentu, memberikan informasi dan mengatur berbagai praktik dan institusi yang tampaknya cukup berbeda."

SEJARAH SOSIOLOGI MENURUT PARA ILMUAN TERDAHULU


SEJARAH SOSIOLOGI MENURUT PARA ILMUAN TERDAHULU
1.      Ibn Khaldun (1332-1406)
Ibn Khaldun mengemukakan beberapa prinsip yang pokok, untuk menafsirkan kejadian-kejadian sosial dalam peristiwa sejarah. Secara implisit Ibn Khaldun menjelaskan bahwa kekuatan dasar manusia terletak pada keyakinan untuk berasosiasi. Sama Ikatan asosiasi akan kuat jika memiliki keyakinan yang sama antar kelompok inndividu. Jika itu terpelihara maka akan memuculkan identitas yang dimiliki bersama, fanatisme dan ideologi. Di sinilah pemikiran Ibn Khaldun juga berkontribusi penting dalam pembentukan cikal bakal nasionalisme.
2.      Auguste Comte(1798-1857)
Auguste Comte menyebutkan ada tiga tahap perkembangan intelektual. Pertama tahap teologis, adalah tingkat pemikiran manusia bahwa semua benda di dunia mempunyai jiwa dan  itu disebabkan oleh suatu kekuatan yang berada di atasmanusia. Kedua tahap metafisis, adalah manusia menganggap bahwa didalam setiap gejala terdapat kekuatan-kekuatan atau inti tertentu yang pada akhirnya akan dapat diungkapkan. Oleh karena adanya  kepercayaan bahwa setiap cita-cita terkait pada suatu realita tertentu dan tidak ada usaha untuk menemukan hokum-hukum alam yang seragam. Ketiga tahap positif adalah tahap dimana manusia mulai berpikir secara ilmiah.
Pemikirannya tentang sosiologi terbagi menjadi dua landasan. Pertama, ia berpikir adanya kemungkinan kembali ke Abad Pertengahan; kemajuan ilmu dan industrilah yang tak memungkinkannya. Kedua, ia mengembangkan system teori yang lebih canggih ketimbang yang dilakukan pendahulunya, yang cukup memadai untuk mempelajari kajian yang baik dari sosiologi awal.
3.      Emile Durkheim (1858-1917)
Emile Durkheim memperkenalkan pedekatan fungsiobagnalisme yang berupaya menelusuri fungsi berbagai elemen sosial sebagai pengikat sekaligus pemeliharaan keteraturan sosial.
Pemikirannya tentang sosiologi adalah terdapat distingsi antara dua tipe solidaritas social, yaitu solidaritas mekanis dan solidaritas organis. Menurutnya, masyarakat-masyarakat tradisional bersifat kohesif karena setiap orang pada dasasarnya sama.
4.      Max Weber (1864-1920)
Max Weber memperkenalkan pendekatan vershten (pemahaman), yang berupaya menelusuri nilai, kepercayaan, tujuan, dan sikap yang menjadi penuntut perilaku manusia.
Pemikirannya tentang sosiologi adalah sebagai sains yang berusaha mendapatkan pemahaman interpretatif mengenai tindakan sosial untuk mencapai penjelasan kausal mengenai arah dan akibat-akibatnya.
5.      Karl Mark (1818-1883)
Karl Mark memperkenalkan pendekatan meterialisme dialektis, yang menganggap konflik antar-kelas social menjadi intisari perubahan dan perkembangan masyarakat,
Pemikirannya tentang sosiologi adalah  mengenai konsepsi materialisme sejarah bahwa bukan ide atau nilai manusia yang memegang sumber utama perubahan social tapi didorong terutama oleh pemahaman ekonomi.